Sebelum kita mengeluh…

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak
dapat berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di
jalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang pasanganmu, pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Allah untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu
cepat.

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang
menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

semoga bermanfaat

KARAKTERISTIK MORFOLOGI TINGKAT KEMUNDURAN MUTU DAN ANALISIS KADAR PROTEIN IKAN BUNTAL PISANG

Laporan ke-1   Hari/Tanggal : Selasa, 09 Maret 2010

m.k Pengetahuan Bahan Baku   Nama Asisten: Nanang Kurnia

Industri Hasil Perairan   Kelompok : 14

KARAKTERISTIK MORFOLOGI TINGKAT KEMUNDURAN MUTU DAN ANALISIS KADAR PROTEIN IKAN BUNTAL PISANG

(Tetraodon lunaris)

Intan Rukiyah (C34080076), Steven (C34080091), Vini Oktorina (C34080069), Wulan Dewiningtias (C340080073), Zahidah (C34080074)

Departemen Teknologi Hasil Perairan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK

Ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris) merupakan salah satu ikan laut ekonomis tinggi memiliki daging yang lezat. Tujuan praktikum ikan buntal pisang untuk mengetahui teknik preparasi ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris) dengan benar serta mengetahui rendemen, laju kemunduran mutu, dan kadar protein ikan buntal pisang. Preparasi ikan buntal pisang diawali dengan uji organoleptik menggunakan scoresheet untuk mengetahui laju kemunduran mutu dilanjutkan dengan  pengukuran morfometrik meliputi panjang total, panjang baku, lebar  badan yang menggunakan metode pengukuran manual menggunakan penggaris. Berat ikan buntal pisang ditimbang dengan timbangan analitik meliputi berat total, berat kepala, berat daging utuh, dan berat daging setelah di fillet kemudian dilakukan analisis kadar protein yang terdiri dari tiga tahap yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. Mutu ikan buntal pisang yang digunakan untuk preparasi cukup baik berdasarkan hasil uji organoleptik dengan kisaran 7-9. Ukuran panjang total, panjang baku, dan lebar badan ikan buntal pisang berturut-turut adalah 17,5 cm, 14,5 cm, dan 4 cm. Ukuran berat total, berat kepala, dan berat daging ikan buntal pisang berturut-turut adalah 120 gram, 80 gram, 40 gram. Rendemen daging ikan buntal pisang adalah 25%. Hasil dari uji protein ikan buntal dari tiga kali ulangan adalah 16, 1962%, 17,8156%, dan 17,0056%.

Kata kunci : Buntal pisang (Tetraodon lunaris), preparasi, morfometrik, rendemen, organoleptik, protein.

PENDAHULUAN

Di Indonesia, ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris) belum dioptimalkan secara maksimal karena ikan ini dianggap beracun yang mematikan, padahal di perairan Indonesia ikan jenis ini cukup berlimpah. Racun ikan buntal adalah tetradotoksin yang terdapat di gonad, usus, hati, empedu, dan di bawah kulit (Anonimus 2004).

Dengan pengolahan yang tepat, daging ikan buntal menjadi sangat komersial. Tiap tahun, Jepang mengonsumsi ikan buntal jenis Fugu sebanyak 20.000 ton. Di Indonesia, ikan buntal dikonsumsi di daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dan Tuban yang diolah menjadi ikan asin.

Klasifikasi ikan buntal pisang menurut Saanin (1984) adalah:

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Pleognathi

Famili : Tetraodontidae

Genus : Tetraodon

Spesies : Tetraodon lunaris

Nama Indonesia : Ikan buntal pisang

Ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris) dicirikan dengan adanya duri-duri lemah yang terdiri dari 12-13 duri lemah pada sirip punggung, 10-11 duri lemah pada sirip dubur, 16 duri lemah pada sirip dada, memiliki dua garis lateral, garis lateral bawah membentuk tonjolan memanjang pada bagian belakang badan, dari belakang mata sampai permukaan sirip punggung terdapat duri-duri pendek dan lebat, badan bagian atas berwarna coklat sedangkan bagian bawah lebih terang dan samping tubuh mengkilat (Djamali, 1994).

Tujuan praktikum ikan buntal adalah untuk mengetahui teknik preparasi yang benar dan mengetahui rendeman serta kadar protein ikan buntal. Protein ikan mengandung asam amino esensial maupun asam amino nonesensial. Protein daging ikan memiliki kelebihan dibandingkan dengan daging sapi, yaitu argininnya. Asam amino alanin, isoleusin, dan metionin pada ikan umumnya rendah. Kandungan protein pada daging ikan cukup tinggi mencapai 20% dan tersusun atas sejumlah asam amino yang berpola mendekati kebutuhan asam amino di dalam tubuh manusia (Adawyah 2007).

Berdasarkan hasil penelitian, daging ikan mempunyai nilai biologis sebesar 90%. Nilai biologis adalah perbandingan antara jumlah protein yang dapat diserap dengan jumlah protein yang dikeluarkan oleh tubuh. Artinya, apabila berat daging ikan yang dimakan 100 gr, jumlah protein yang akan diserap oleh tubuh kurang lebih 90% dan hanya 10% yang terbuang (Adawyah 2007).

Kekurangan daging ikan dapat mengakibatkan timbulnya penyakit kwashiorkor, busung lapar, pertumbuhan mata terhambat, serta menurunnya tingkat kecerdasan pada anak-anak, bahkan dapat mengakibatkan kematian (Adawyah 2007). Hal ini membuktikan bahwa protein pada ikan sangat penting dikonsumsi oleh tubuh untuk pertumbuhan dan kesehatan, dan daging ikan buntal dapat memenuhi kebutuhan protein tubuh manusia.

METODE

Waktu dan Tempat

Praktikum morfologi ikan buntal di laksanakan di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada hari Kamis, 25 Februari 2010 pukul 13.00-16.00 dan Kamis, 04 Maret 2010 pada pukul 13.00-16.00.

Praktikum uji kadar protein dilaksanakan di Laboraturium Limbah pada hari Kamis pukul 13.00-16.00 dan Laboratorium Biokimia Hasil Perairan pada hari Sabtu pukul 10.00-11.30.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum morfologi adalah pisau, nampan, talenan, plastik dan timbangan. Bahan yang digunakan adalah ikan buntal (Tetraodon lunaris) dan es batu.

Sedangkan untuk uji kadar protein alat yang digunakan praktikum adalah tabung kjelhdal, labu takar, alat destilasi, tabung kodensor, alat pemanas, dan erlenmeyer. Bahan yang di gunakan adalah 2 gr cacahan ikan buntal (Tetraodon lunaris), 50 ml akuades, kjeltup CuSO4.K2SO, 25 ml H2SO4, 20 ml NaOH 40%, H3BO3, 3 tetes cairan indikator (cairan methyl red dan brom creosol green), HCl 0,1 N.

Prosedur percobaan

Pada praktikum morfologi, metode yang digunakan adalah rendemen, yaitu mengambil proporsi ikan yang dapat di ambil. Sebelum ikan tersebut di rendemen, ikan ditimbang dahulu secara utuh, kemudian catat bobotnya. Kemudian batas antara kepala dengan perut dipotong sampai mencapai perut, pisahkan antara kulit dengan daging serta jeroannya. Setelah diperoleh pisahan antara kepala dan badan (daging), badan ikan ditimbang  kemudian dicatat bobotnya. Setelah ditimbang fillet ikan sampai hanya mendapatkan bagian dagingnya kemudian timbang dan catat bobotnya, cacah ikan sampai halus, setelah dicacah ikan dimasukan ke dalam plastik dan disimpan di lemari es yang bertujuan untuk membekukan daging ikan buntal yang telah dicacah tersebut.

Prosedur kerja praktikum uji kadar protein kali ini terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap destruksi, destilasi, dan titrasi. Tahap pertama yaitu destruksi, cacahan daging dimasukkan ke dalam tabung kjeldhal ditambah kjeltup setengah tablet. Masukkan ke dalam dekstruksiator selama satu jam dengan suhu 4000 C. Setelah itu hasil destruksi ditambahkan akuades hingga 100 ml dalam labu takar. Ambil 10 ml hasil destruksi masukkan ke dalam destilator dan tambahkan 10 ml NaOH pekat. Tampung destilat dalam erlenmeyer yang berisi 25 ml H3BO3 4% sampai berubah warna dari merah menjadi biru kehijauan. Hasil dari destilasi kemudian dititrasi dengan HCl O,1 N. Setelah itu dihitung kadar N dan kadar proteinnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan berat total ikan buntal pisang seberat 120 gr, panjang total 17,5 cm, panjang baku 14,5 cm, dan lebar badannya 4 cm. Kelengkapan garis rusuk (Linea Lateralis) ikan buntal pisang lengkap tidak terputus. Ikan buntal memiliki kelengkapan sirip pada bagian punggung, dada, anal, dan ekor. Ikan buntal pisang memiliki bentuk mulut terminal yaitu mulut terletak diujung hidung, dan sirip ekornya berbentuk baji. Setelah dilakukan pemisahan antara kepala, daging bagian ekor dan kulit, dihasilkan berat kepala beserta kulitnya seberat 80 gr, berat daging  pada bagian ekor 40 gr, berat daging setelah dilakukan fillet yaitu pemisahan  daging dari tulang dan kulitnya diperoleh berat daging 30 gr dan berat tulang 10 gr.

Dari uji organoleptik ikan buntal pada kelompok 14 didapatkan bagian mata yang cerah, bola mata rata, dan memiliki kornea yang jernih.  Insang berwarna merah, agak kusam dan sedikit berlendir. Bagian daging dan perut, sayatan dagingnya cemerlang, warna daging asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut dagingnya masih utuh, dan bau ikan netral. Konsistensi yang diperoleh pada ikan buntal pisang yaitu padat, elastis bila ditekan dengan jari, dan sulit menyobek daging dari tulang belakang.

Rendemen adalah proporsi dari bahan baku yang bisa dimanfaatkan. Randemen pada ikan buntal pisang terdapat pada daging pada bagian ekor. Rendemen dapat diperoleh dari bobot daging dibagi dengan ikan utuh kemudian di kali seratus persen. Pada ikan buntal pisang kelompok 14 dihasilkan rendemen sebesar 25%.

Bagian yang bisa dimanfaatkan atau dimakan pada ikan buntal adalah daging pada bagian ekor, sedangkan hati, ovarium, kulit dan usus halus mengandung neurotoksin yang mematikan yaitu tetrodotoksin (TTX). Racun ini diperkirakan disintesis oleh bakteri atau dinoflagellata yang berhubungan dengan ikan buntal. Tetradotoxin adalah racun yang tahan panas (kecuali dalam suasana alkali) dan merupakan racun non-protein yang larut dalam air. Tetradotoksin adalah molekul organik, kecil, heterosiklik yang bekerja langsung pada pompa natrium aktif di jaringan saraf. Racun ini menghambat difusi natrium melalui pompa natrium, sehingga mencegah depolarisasi dan terbentuknya aksi potensial dari sel saraf.

Uji kadar protein ikan buntal (Tetraodon lunaris) dilakukan dengan tiga tahap, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. Uji kadar protein diperoleh hasil pada tabel di bawah ini :

Parameter (%) Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3
N 2,5941 2,8505 2,7209
Protein 16,1962 17,8156 17,0056

Uji kadar protein ikan buntal diperoleh kisaran protein antara 16-18%. Pada umumnya, kadar protein normal ikan adalah antara 8-20%. Dibandingkan dengan kadar protein normal ikan, hasil yang diperoleh pada percobaan ini termasuk ikan yang memiliki kadar protein yang tinggi. Rata-rata kadar protein (basis basah) ikan kakap laut dalam segar adalah 20,89% dengan kisaran 19,78-21,78% (Adawyah R 2007). Ikan kakap mempunyai kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan buntal.

KESIMPULAN

Ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris) memiliki ukuran panjang total, panjang baku, dan lebar badan ikan buntal pisang berturut-turut adalah 17,5 cm, 14,5 cm, dan 4 cm. Ukuran berat total, berat kepala, dan berat daging ikan buntal pisang berturut-turut adalah 120 gram, 80 gram, 40 gram. Rendemen daging ikan buntal pisang adalah 25%. Ikan buntal memiliki kadar protein pada ulangan 1, ulangan 2, dan ulangan 3 berturut-turut adalah 16,1962%, 17,8156%, dan 17,0056%.

DAFTAR PUSTAKA

Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta : Bumi Aksara

Djamali, Asikin dkk.1994. Fauna Ikan-Ikan Laut Berbisa dan Beracun di                          Indonesia.             Jakarta : Proyek Pemasyarakatan dan Pembudayaan IPTEK             Pusat Penelitian             dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu             Pengetahuan Indonesia.

Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid 1 dan Jilid 2. Bandung : Bina Cipta.

Lampiran

Contoh Perhitungan :

Ulangan 1

%N  = 2,5914 %

%Protein = 2,5914 x 6, 25 %

%Protein = 16,1962

FPIK

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

IPB punya ikan

Fakultas paling oke ya FPIK. Biru…